Laman

Kamis, 09 Juli 2009

puntadewa/kuntadewa


PUNTADEWA
Manusia tidak bermusuh

Puntadewa adalah anak sulung Prabu Pandu Dewanata, seorang Raja Astinapura. yang lahir dari Dewi Kunthi Talibrata. Dari ibu yang sama ia mempunyai dua adik laki-laki, yaitu Bimasena dan Harjuna. Sedangkan dari Dewi Madrim ibu yang lain, Puntadewa mempunyai saudara laki-laki kembar, bernama Pinten dan Tansen. Kelima anak laki-laki Pandu Dewanata lebih dikenal dengan sebutan Pandhawa Lima. Selain berayah Pandudewanata, Puntadewa dikenal juga sebagai anak Dewa pendarma, yang bernama Bathara Dharma.

Pada umumnya Puntadewa dianggap tokoh baik, berwatak putih suci, berbudi halus, sabar, berbelas kasih, setia, tidak mau mengecewakan orang lain, dan tulus ikhlas memberikan kepunyaannya kepada orang lain yang membutuhkan. Bahkan istrinya sekali pun jika diminta, akan diberikan. Karena perilaku yang teramat baik itulah, Puntadewa disebut sebagai manusia sempurna berdarah putih, atau manusia Ajatasatru, artinya manusia yang tidak mempunyai musuh.

Sebagai anak sulung, Puntadewa dipersiapkan menjadi raja. Namun sayang, Pandu Dewanata wafat ketika ke lima anak-anaknya masih kecil, sehingga untuk sementara negara Astinapura di titipkan kepada kakak Pandu yang bernama Destarasta, dengan janji bahwa nanti setelah Pandawa dewasa Kerajaan Astinapura akan diserahkan kepada Puntadewa. Namun janji tersebut tidak pernah ditepati. Buktinya, setelah Puntadewa dan ke empat adiknya dewasa, para kurawa yang didalangi Patih Sengkuni mencoba membunuh mereka dengan cara menjebaknya dalam sebuah rumah dan membakarnya hidup-hidup. Peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan “Bale Sigala-gala.” Setelah tragedi berlalu, diantara puing-puing reruntuhan, didapatkan enam jenasah yang hangus terbakar, dan itu diyakini bahwa mereka adalah Kunthi Puntadewa dan ke empat adiknya. Dengan demikian tahta Hastina sudah aman dari pewarisnya. Maka segeralah Duryudana, anak sulung Prabu Destarastra naik tahta menjadi Raja Hastinapura.

Beberapa tahun kemudian, ada berita bahwa Puntadewa, Kunthi dan keempat adiknya masih hidup dan bahkan saat ini mereka sedang merayakan perkawinan Puntadewa dengan Dewi Drupadi di Negara Pancala. Agar Para Pandawa tidak merebut tahta Hastina, Destarastra menyarankan kepada Duryudana untuk memanggil mereka dan memberikan tanah kepada Puntadewa sebagai pengganti bumi Hastina. Tanah tersebut berupa hutan yang bernama Wanamarta. Walaupun merasa diperlakukan tidak adil, dengan ikhlas Puntadewa dan keempat adiknya melakukan pekerjaan besar, yaitu Babad Alas Wanamarta.

Dikisahkan bahwa Alas Wanamarta sesungguhnya merupakan sebuah Kraton “lelembut”yang sangat indah bernama Indraprasta, Prabu Yudistira, adalah nama rajanya. Ia mempunyai empat adik laki-laki bernama Dandunwacana, Dananjaya dan saudara kembar Nakula, Sadewa. Di dalam Wayang Kulit Purwa, Prabu Yudistira dan ke empat adik laki-lakinya bentuknya sulit dibedakan dengan Pandawa Lima. Prabu Yudistira seperti Puntadewa, Dandunwacana hampir sama dengan Bimasena, Dananjaya mirip Harjuna, sedangkan Nakula Sadewa tidak jauh berbeda dengan Pinten dan Tansen.

Ketika Puntadewa, adik-adiknya dan didukung para kawula berkumpul di hutan untuk memulai membabat hutan Wanamarta, Prabu Yudistira dan adik-adiknya merasa terusik, mereka marah dan ingin menggagalkan babad Alas Wanamarta. Namun niat itu diketahui oleh Harjuna, karena ia mempunyai pusaka ‘Lenga Jayeng Katon’ yang jika dioleskan di mata dapat melihat para makhluk halus. Maka terjadilah peperangan antara Pandawa dan para penguasa Kerajaan Indraprasta.

Pada akhirnya, Prabu Yudistira dapat ditundukan. Kerajaan Indraprasta diserahkan kepada Puntadewa. Jiwa Prabu Yudistira masuk ke dalam jiwa Puntadewa, diikuti oleh jiwa Dandunwacana bersatu dengan Bimasena, Dananjaya bersatu dengan Harjuna, si kembar Nakula dan Sadewa menyatu dengan si kembar Pinten dan Tansen.

Setelah peristiwa itu, keajaiban terjadi. Alas lebat Wanamarta berubah menjadi keraton megah dan indah, dengan nama Indraprasta. Puntadewa diangkat menjadi Raja dengan gelar Prabu Yudistira. Demikian juga Bimasena disebut juga Dandunwacana, Harjuna disebut Dananjaya, dan Pinten, Tansen disebut juga Nakula, Sadewa.

Sebagai ucapan syukur atas keberhasilan mendirikan Keraton Indraprasta yang besar dan sangat indah, jauh melebihi Negara Astinapura, Prabu Yudistira mengadakan upacara sesaji yang dinamakan Sesaji Raja Suya. Pada upacara tersebut, Prabu Yudistira mengundang Raja-raja dari seribu negara, termasuk Raja Astina Prabu Duryudana. Pada Upacara Sesaji Raja Suya, nampaklah kebesaran Prabu Yudistira yang dielu-elukan raja dari seribu negara dan juga kemegahan dan keindahan negara Indraprasta. Tentu saja Prabu Duryudana menjadi iri. Di dalangi oleh Patih Sengkuni, Prabu Duryudana ingin merebut Negara Indraprasta. Maka disusunlah siasat licik. Prabu Duryudana mengundang Puntadewa untuk bermain dadu dalam sebuah acara pesta. Pada puncak permainan dadu, Puntadewa mempertaruhkan negara Indraprasta beserta isinya, dan kalah. Akibatnya Puntadewa dan adik-adiknya, juga kawula Indraprasta terusir dari keraton. Mereka dibuang ke hutan dan hidup sengsara selama 13 tahun.

PUNTADEWA
watak putih yang meraja

Kekalahan atas permaian dadu dianggap sebagai salah satu sikap Puntadewa yang tidak bisa menolak ajakan Duryudana, karena hal itu akan mengecewakan saudara tua. Demikian juga, ketika Sri Kresna menyuruh Puntadewa untuk bersaksi dusta kepada Resi Druna bahwa Aswatama anak Druna telah tewas, pada hal yang terbunuh bukan Aswatama tetapi Estitama nama seekor gajah. Peristiwa lain, ketika perang Bharata Yuda, Puntadewa yang selama hidupnya belum pernah berperang, tidak kuasa menolak perintah Sri Kresna, untuk berperang melawan Prabu Salya. Darah putih yang mengalir dalam diri Puntadewa, membuat ajian Prabu Salya, Candrabirawa tak berdaya. Akhirnya Prabu Salya gugur di tangan Puntadewa.

Tiga peristiwa penting yang dialami Puntadewa, dicatat sebagai dosa-dosa Puntadewa, atau sejarah tragedi yang membawa korban. Namun mengingat catatan panjang kebaikan Puntadewa, tragedi-tragedi tersebut diterima sebagai akibat dari sebuah konflik batin seseorang untuk mempertahankan kesucian dan rasa belaskasih tanpa pamrih, dan juga sebagai panggilan darma dari seorang anak Bathara Dharma.

Konflik batin yang dialami Puntadewa, juga dialami setiap manusia. Di dalam batin seseorang atau disebut juga ‘jagad cilik’atau micro cosmos, konflik itu selalu terjadi. Dampak dari konflik tersebut akan mempengaruhi ’jagad gedhe’ atau macro cosmos.

Di dalam kitab Centhini jilid I, bab (pupuh) 75-77. dipaparkan sebuah illustrasi konflik batin manusia, dengan penggamabaran ‘Gedhong catur candhelanya tunggil,’ empat rumah dengan satu pintu. Masing-masing rumah dihuni oleh seorang raja. Walaupun keempat raja tersebut bersaudara, mereka mempunyai watak, karakter dan kesenangan yang berbeda-beda. Raja Mutmainah, bercahaya putih, adalah raja yang berwatak sabar, welas asih tulus dan suci. Raja Amarah, bercahaya merah, berwatak serakah dan ‘panasten.’ Raja Aluamah, berwarna hitam, mempunyai kesenangan makan yang berlebihan sehingga menjadi pelupa. Raja Supiyah, raja wanita, bercahaya kuning, senang pada keindahan, sikapnya selalu berubah, tidak dapat menepati janji. Dalam bab tersebut dituliskan bahwa Raja Aluamah, Raja Amarah dan Raja Supiyah dengan bala tentaranya bersatu untuk memerangi Raja Mutmainah. Perang besar yang memakan banyak korban terjadi. Raja Mutmainah berhasil meringkus ke tiga Raja dan memasukan ke dalam penjara. Mereka diberi makan untuk hidup, namun tidak boleh mencampuri kebijaksanaan Raja Mutmainah. Pintu satu-satunya yang terdapat dalam empat rumah dikuasai sepenuhnya oleh Raja Mutmainah.

Sebuah gambaran menarik untuk direfleksikan ke dalam batin manusia dalam wilayah jagad cilik, yang memberi kontribusi pada wilayah kehidupan jagad gedhe. Jika pada akhir sebuah konflik yang menang dan berkuasa adalah Raja Mutmainah, maka yang memancar keluar adalah cahaya putih, berwatak suci, welas asih, sabar dan tulus. Rupa-rupanya karakter itulah yang digambarkan pada sosok Puntadewa. Ketika para Pandawa Lima mengangkat Puntadewa sebagai raja, maka komitmennya adalah, bahwa apapun kebijaksanaan Raja, saudara-saudara lainnya mendukung, dan bahkan ikut menanggung akibat dari sebuah kebijaksanaan tersebut. Puntadewa sebagai jagad cilik, telah tiga kali menyelesaikan konflikyang tergolong besar dan dengan ikhlas, ia mau menanggung akibatnya. Namun karena ia tidak sendirian, ia adalah Raja negara besar Indraprasta, dalam wilayah jagad gedhe, maka orang-orang terdekat dan juga rakyat Indraprasta ikut menanggung dan bahkan menjadi korban kebijaksanaan Puntadewa.

Itulah Puntadewa. Ia menjadi tokoh yang dilematis. Kebaikan yang berlebihan dianggap sebagai wujud lain dari watak yang selalu memikirkan diri sendiri. Di dalam benaknya, hanya ada sebuah pemikiran, bagaimana caranya untuk bertahan dalam kesetiaan. Ia memang setia kepada panggilan dharma. Tetapi apakah dengan demikian ia juga setia dalam kedudukkannya sebagai pengayom? setia sebagai raja?

Pada akhir hidupnya, Puntadewa dan keempat adiknya mendaki alam keabadian yang disimbolkan Gunung Mahameru. Satu persatu keempat adiknya jatuh dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Mulai dari Sadewa, Nakula, disusul Harjuna dan kemudian Bimasena. Pada akhirnya, ketika sampai di sebuah Gapura nan indah, tinggalah Putadewa seorang diikuti oleh anjing kesayangannya. Puntadewa berniat memasuki pintu tersebut, namun penjaga gerbang tidak memperbolehkan anjingnya ikut masuk. Puntadewa besikeras untuk membawa anjingnya, karena baginya anjing tersebut telah berjasa memberi petunjuk jalan. Oleh karenanya, menjadi tidak adil jika anjingnya tidak diperbolehkan masuk. Ketegangan diantara keduanya terjadi. Pada saat itulah, anjing tersebut berubah wujud menjadi Batara Dharma, ayah Puntadewa.

Peristiwa itu merupakan gambaran sebuah pendadaran kesetiaan yang terakhir bagi Puntadewa. Batara Dharma tersenyum puas, selama mendampingi anaknya, ia merasakan bahwa Puntadewa selalu berhasil dalam memerangi musuh batin yang menghalangi panggilan darma. Sebagai upah di akhir hidupnya, Batara Dharma menggandheng Puntadewa melangkah masuk di surga keabadian.)

PUNTADEWA MASUK NERAKA?

Dalam Gandhengan Batara Dharma, Puntadewa mengikuti langkah sang penjaga gerbang yang tak lain adalah Batara Indra. Mereka berjalan melalui padang rumput hijau segar dipenuhi taman aneka bunga nan asri. Tak beberapa lama sampailah mereka di sebuah pintu gerbang, berukir indah, memancarkan cahaya berkilau. Tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya, tanpa mengalami kesulitan Puntadewa masuk ke dalamnya.

“Betapa indahnya surga, lebih indah dari yang aku dibayangkan. Belum pernah aku merasakan kebahagiaan seperti saat ini.”

Oleh karena kepenuhan kebahagiaan yang sempurna, Maka tidaklah mengherankan, decak kagum dan pujian penuh syukur hampir tak pernah berhenti terucap dari mulut Puntadewa. Pada saat yang membahagiaakn itu, Puntadewa teringat keempat adiknya, teringat akan sumpahnya untuk bersama-sama merasakan pahit manisnya kehidupan. Maka dicarinya keempat adiknya diantara orang-orang yang ada, namun tidak diketemukan.

Tiba-tiba mata Puntadewa terbelaklah melihat beberapa orang yang sedang melintas di depannya. Benarkah itu Duryudana, Dursasana dan para Kurawa lainnya. Mengapa mereka yang berperilaku tidak terpuji berada ditempat ini. Benarkah tempat ini adalah surga kebahagiaan nan abadi? Jika benar, mengapa masih ada perasaan tidak mengenakan, sehingga mengurangi kebahagiaanku. Perasaanku mengatakan, bahwa tempat ini bukan surga yang sebenarnya. Ada surga sejati yang abadi, surga kebahagiaan kekal dan tak berubah-ubah. Pasti keempat adikku berada di sana. Aku akan menyusul mereka.

“Jangan lakukan itu, Puntadewa”

“Mengapa Hyang Indra”

“Tempatmu di sini Puntadewa. Di surga.”

“Berada disurga bersama Para Kurawa?”

“Itu adalah urusan Hyang Padha Wenang.”

“Aku mengerti Hyang Indra. Bukankah surga adalah wujud kelimpahan rahmat yang dianugerahkan ketika manusia telah ‘menyelesaikan’ tugasnya sesuai dengan panggilan dharma.”
“Itu Benar Puntadewa, dan engkau telah mendapatkan surga itu. Tetapi mengapa rahmat itu akan kau tinggalkan.?”

“Aku ingin setia akan sumpahku, seperti halnya aku setia akan panggilan darma.”

“Tetapi Puntadewa, engkau tidak boleh menemui keempat adikmu”

“Mengapa Hyang Indra”

“Mereka ada di Neraka.”

“Di Neraka!”

Puntadewa tersentak hatinya. Ia tidak dapat membayangkan betapa sakit dan sengsara keempat adiknya. Tanpa berpikir panjang, Puntadewa bergegas meninggalkan surga. menuju neraka, tempat adik-adiknya berada. Karena belum tahu jalannya, Puntadewa memohon kepada Hyang Darma menjadi penunjuk jalan. Dalam sekejab, mereka telah sampai di jalan setapak, dengan jurang menganga di kanan-kiri. Di jurang-jurang itulah tampaklah pemandangan yang mengenaskan dan mengerikan. Banyak orang terpanggang dalamkobaran nyala api abadi. Mereka menggeliat kesakitan tanpa dapat berbuat sesuatu. Ketika Puntadewa dan Bhatara Dharma lewat di jalan setapak itu, mereka berebut minta tolong dengan tangan terjulur, agar dientaskan dari jurang yang dipenuhi nyala api abadi.

Puntadewa tidak dapat membendung air matanya, tatkala melihat diantara kerumunan orang-orang yang minta tolong tersebut terdapat Bimasena, Harjuna, Nakula dan Sadewa. Nalurinya sebagai saudara tua terusik, Puntadewa menjulurkan tangannya hendak menolong keempat adiknya. Namun niat itu tidak pernah kesampaian. Jurang itu berada jauh di bawah dari jangkauan tangannya. Niat Puntadewa telah bulat, ia ingin berada diantara keempat adiknya. Maka kemudian ia meloncat turun di jurang api abadi. Api neraka. Apa yang dilakukan merupakan wujud kesetiaan abadi. Kesetiaan yang senantiasa dipelihara, diperjuangkan dan bahkan membutuhkan pengorbanan. Dan Puntadewa percaya, dalam kesetiaan yang demikian, ia tetap selalu ada di garis rahmatNya, walupun harus dibakar oleh panasnya api.

Melihat kejadian itu, Batara Indra dan Batara Darma kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Tugas mereka adalah untuk mengantar Puntadewa ke dalam Surga. Tetapi yang terjadi kemudian bahwa Puntadewa memaksakan diri masuk ke neraka. Maka segera mereka menghadap Hyang Pada Wenang, melaporkan apa yang telah terjadi.

“Ampun Hyang Pada Wenang, kami berdua siap menerima murkaMu, karena tidak dapat mencegah ketika Puntadewa meloncat ke api neraka.”

“Aku tidak akan murka. Itu semua memang berada dalam rencanaku. Aku sendirilah yang telah mengujinya. Dan ia telah selesai dan lulus. Puntadewa sungguh ‘manusia sempurna,’. Surga Abadi Aku anugerahkan kepadanya.”

Bersamaan dengan Sabda Hyang Pada Wenang, tempat di mana Puntadewa berada berubah menjadi Surga Abadi. Semua bersorak penuh syukur. Puntadewa telah menyelamatkan banyak orang. Dalam waktu yang bersamaan, tempat di mana Duryudana berada, berubah menjadi Lautan Api Abadi. Semua orang berteriak kepanasan. Duryudana telah menyengsarakan banyak orang.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar